Powered by Blogger.
facebook linkedin twitter youtube

Strong Mind and Gentle Soul

My Lifetime Goal is indeed, to have a strong mind and a gentle soul

    • Home
    • Travel
    • Health/Beauty
    • Books/Movies
    • Food
    • Mind

     

    Halo, wow sudah lama sekali saya terakhir ngeblog. satu tahun lebih sudah terlewat.

    Nah meneruskan cerita travelling UK sebelumnya. Setelah menghabiskan minggu pertama liburan saya di negeri Scottland, saya dan teman-teman berlanjut ke.. England !

    Yang kenal saya udah lama mungkin enggak heran lagi kalau wishlist no.1 saya itu London. Dan akhirnya, di umur 26 tahun, saya berhasil menceklis wishlist itu :') London is, to no one's surprise, a big city. it's crowded, full of people, full of traffic. Well, it's a megacity. Alasan kenapa saya pengen banget ke London itu datang jauh dari masa lalu. Waktu remaja saya itu suka banget baca novel, terutama novel fiksi yang high-fantasy gitu. Dan setting cerita nya itu sering sekali di London. dan itulah yang bikin saya jadi punya rasa penasaran yang mendalam sama ibukota England ini.

    Tapi.. ternyata, London yang selama ini ada di imajinasi saya berpuluh-puluh tahun, berbeda sekali dengan aslinya. London di tahun 2019 sangat modern, sudah banyak gedung-gedung dengan arsitektur modern, populasi nya padat, banyak anak muda nongkrong di segala penjuru kota, dan paling notabene : macet !

    Ya iya sih Jakarta juga macet (banget malah). Tapi hal yang paling saya sukai ketika travelling ke negara maju itu untuk menikmati ketidakmacetan nya. Namun ternyata di London nggak bisa lepas dari macet. Terlalu banyak waktu yang saya habiskan di jalan. Selalu sampai di bnb itu jam 11 malam ke atas. Sampai rumah pasti udah capek, ngantuk, pegel, dan besoknya harus berangkat pagi supaya sampai di tempat tujuan enggak kesiangan, ya karena lagi-lagi : macet ! Dan saya nggak tahu sih ini perasaan saya aja apa gimana, tapi Londonners itu tidak terlalu ramah ya. Terutama anak mudanya. Cenderung cuek dan nggak sopan. Kalau ada lansia di tube, mereka tidak langsung bangun untuk memberi tempat duduk, harus ada yang nyolek dulu. Sibuk main HP atau haha hihi sama teman sebelahnya. Belum lagi kalau malam banyak yang mabuk di dalam tube, nyanyi-nyanyi sendiri atau ketawa sendiri mengganggu penumpang lain. Duh, pokoknya nggak nyaman dan cukup cringy.

    Tapi dengan segala keluhan saya dengan London, saya tetap bersyukur kok akhirnya bisa mengunjungi kota ini dan menikmatinya. Di England ini saya nggak cuma di London, sempat mampir juga ke Oxford, Bichester, Peak District, dan Cotswold. Pasti dong nggak ketinggalan jalan-jalan di alam, kriteria jalan-jalan yang ideal bagi saya. Di Bichester itu ada satu distrik yang memang khusus untuk shopping barang-barang high-end brand, dengan harga yang sedikit lebih murah. Nggak banyak sih menurut saya, sedikit lebih murah aja. Tetap mahal :'D. 

    Kalau Peak District itu luaaas sekali, sayang saya cuma sempat day trip kesana, jadi cuma sempat ke satu tempat yaitu Castleton. Ngebolang tanpa arah di sini juga ga akan rugi karena pemandangannya indah banget. Cotswold dengan dereta rumah-rumah klasik nya penyejuk mata banget. Banyak bakery lokal juga yang menjual baked goods, enak-enak sekali dan aromanya memenuji jalan. Duh, sepertinya saya memang lebih suka countryside daripada metropolitan ya. Anyway, so grateful to finally get to visit my number 1 wishlist.



    London bridge !





    The London Eye


    Trafalgar Square yang selalu muncul di novel-novel fiksi yang saya baca dari kecil :'')


    Piccadilly Circus at night !


    Hyde Park


    Westminster


    Berlanjut ke perjalanan penuh dengan keindahan alam










    Dari perjalanan saya yang didahului Scottland dan dilanjut England, sepertinya saya bisa menentukan dengan pasti, bahwa kota favorit saya sekarang Edinburgh, bukan lagi London :D

    Happy travelling !























     

                                       

    Continue Reading

    Halo,

    Melanjutkan post saya sebelumnya tentang perjalanan Scottish Highlands, kali ini saya settled di satu kota, yaitu Edinburgh! Capital city dari Scotland. Setelah 3-day trip menelusuri Scottish Highlands, saya menghabiskan 3 hari 3 malam di Edinburgh, sebelum kemudian lanjut ke negara tetangga.

    Okay, so, everyone who knew me since a long time have known that my ultimate city to visit is, none other than London. This is why I put London at last. But! But..... My travelling experience in Edinburgh kinda cracked that illusion. No regrets though, because Edinburgh is freeaaking wonderful. Teman saya yang pernah S2 di UK sudah memberikan saya warning sebelum saya berangkat, "jangan kecewa", begitu katanya, karena itinerary saya Scotland dulu baru England. Begitu sampai di UK, baru saya mengerti maksudnya.

    Edinburgh is so, beautiful, seriously beautiful. Saya suka sekali dengan ambience kota nya yang tenang, damai, dengan jejak sejarah yang terlihat di setiap sudut kota. Jalanan di Edinburgh itu naik turun, tapi tidak masalah, karena udaranya yang dingin, jadi nggak pernah keringetan. Justru saya di sana selalu bawa payung, karena seharian pasti ada saja gerimis / hujan. Dan di Edinburgh itu, cuaca yang tidak stabil sudah biasa. Di sana bisa dari cerah, tiba-tiba hujan cuma 15 menit, kemudian kembali cerah lagi. But I love it, nothing could make me love this city any less. Kata warga lokalnya, "If you hate the weather in Edinburgh, just wait for 15 minutes". Pakai tagline itu, saya jadi sabar dan nggak langsung mengeluh kalau tiba-tiba hujan.

    Yang membuat saya cinta banget sama Edinburgh juga, adalah traffic nya ! Di sini tidak ada macet, padahal jalannya tidak terlalu lebar. Kemana-mana sangat mudah, tinggal naik bus. Tram ada namun hanya di daerah CBD. Saya nggak pernah sampai ke bnb itu di atas jam 10 malam, karena cari bus gampang dan perjalanan tidak macet.

    Satu hal dari Edinburgh yang paling bikin saya betah adalah, kotanya yang merupakan perpaduan antara civilization and nature. Dari hustle bustle nya city center, mau me-time atau quality time ke tempat yang chill, tinggal naik bus aja. Paling lama 20-30 menit, sudah bisa ketemu observatory hill melihat Edinburgh dari atas, sebutannya Calton Hill. Atau bukit hijau, lengkap dengan danau kecil yang jadi tempat tinggal banyak pigeon dan swan di Holyrood Park. My eyes and mind were blessed. Kalau mau sekedar taman hijau di tengah keramaian, ada Queen St. Garden. Yang mencuri perhatian saya ada lagi Dean Village. Ini lokasinya lumayan meilipir dari keramaian city center, dan terhubung langsung dengan sungai kecil Water of Leith, lengkap dengan sideway path nya yang serene. Benar-benar serasa di setting fairy tale. Padahal ya masih di dalam kota.

    Berikut ini foto-foto Edinburgh yang sangat lovely


    Sekumpulan pigeon dan angsa yang akur. Super cantik betah di sini berjam-jam 


     St. Andrews Chapel dari atas Holyrood Park

     Scott Monument

     View dari Scott Monument

     Victoria Street, probably the only street which the building's color is non-brown

     Edinburgh Castle. Literally castle on the hill. Highly recommended!

     Dean Village

     One of the many narrow alleys in every nook and cranny of Edinburgh

     Calton Hill

    Edinburgh's city light from on top of Calton Hill, after hours



    Melihat foto-foto nya sekarang aja saya kangen banget. Edinburgh.. how easy is was to fall in love with you. I don't mind the constant cold weather, the wind, the little drizzle here and there, the lovely spirit of the city make up for all that. 'Till next time, my favorite city ! It's safe to say now, Edinburgh is my #1 city in this whole wide world.



    Continue Reading

    Halo, 
    Kali ini saya mau share tentang perngalaman travelling saya yang sudah saya tunggu-tunggu dari awal tahun kemarin. Ultimate destination travelling saya memang nggak pernah berubah dari kecil. Semakin bertumbuh dewasa, semakin pengin, apalagi sudah punya penghasilan sendiri. Jadi bulan Oktober 2019 kemarin saya dan kawan-kawan travelling ke UK ! Yep, United Kingdom ! Saya memilih dua negara di UK yaitu England dan Scotland. Dari total perjalanan dua minggu, satu minggu pertama saya habiskan di Scotland.

    Begitu landing di London, saya dkk langsung menuju ke airport lokal untuk lanjut penerbangan ke Edinburgh. Begitu sampai di Edinburgh pun, saya dkk hanya menginap semalam dan paginya lanjut ikut 3-day trip ke Scottish Highlands. Kalau kalian bingung apasih Scottish Highlands itu, silahkan di-googling, dan kalau kebetulan sedang mencari destinasi travelling berikutnya, saya highly recommend tempat ini.

    Jadi Scottish Highlands ini luaaas sekali. Hampir seluruh bagian barat dan utara Scotland itu merupakan highlands, atau bahasa simple nya, dataran tinggi. Kebetulan saya pergi ketika autumn season, jadi pemandangan di sepanjang perjalanan diisi oleh warna kuning kecoklatan, which is, memang warna aesthetic saya banget :'D.

    Perjalanan Scottish Highlands saya meliputi Glen Coe, Loch Lomond, Ben Navis, bermalam di Kyleakin, lanjut ke Portree, Isle of Skye, Eilean Donan Castle, Loch Ness, Culloden, dan Pitclochry. Sebenarnya ada insiden di hari kedua perjalanan 3-day trip saya. Ketika di Portree, bus travel kita mogok, dan kita terdampar di Portree sampai tiga jam lebih. Baru bisa melanjutkan perjalanan itu jam 3 sore. Dan seharian itu hujan badai di Isle of Skye, jadi nggak bisa trekking ke atas untuk lihat Old Man of Storr. Tapi, untuk saya bersama teman-teman yang memang saya dekat dan nyaman. Jadi rasa bete masih bisa diminimalisir.

    Berikut ini foto-foto Scottish Highlands yang sukses selalu bikin saya kepengen balik lagi dengan nyetir mobil sendiri.

    The magnificent Glen Coe, with dark history of a clan massacre


    Eilean Donan Castle



    Isle of Skye when the sun finally appeared (for a little bit, before the storm hit again)



    the small, peaceful Portree


    Urquhart castle overlooking Loch Ness

    Di Scotland banyak sekali travel agent yang membuka 3-day trip, bahkan sampai 5  - 7-day trip. Pengen banget huhu keliling Scotland sampai ke bagian utara, Malaig, Fort Williams, naik Jacobite coal train biar berasa seperti murid Hogwarts ;). Jangan lupa research dulu yang mendalam, dan perhatikan juga review dari para traveller lainnya sebelum memilih travel agent ya. Jangan sampai seperti saya, yang kedapetan bus travel yang mogok :')

    Semoga kesampaian keinginan saya untuk balik lagi ke Scotland dan menikmati Scottish Highlands sampai puas. Amiin.





    Continue Reading


    Halo halo.
    Jujur saya kaget ketika buka blog ini lagi dan ternyata terakhir posting itu tahun 2018... Ternyata sudah setahun saya lagi-lagi nganggurin blog ini. Padahal banyak pengalaman yang terjadi di tahun 2019 loh. Saya coba tumpahkan semuanya satu persatu, semoga tidak wacana :)

    Jadi bulan Ramadhan tahun 2019 kemarin, saya mengalami yang namanya puasa selama 20 jam lebih. Project yang saya sedang pegang itu vendor nya bertempat di Stockholm, Sweden. Jadilah ketika ada pekerjaan yang mengharuskan onsite ke tempat vendor, saya dikirim ke Stockholm. Saat itu bulan Mei, mulai menuju summer, karena itulah daytime nya super lama. Sahur jam 1.30 AM, buka jam 9.30 PM. Pada saat-saat seperti itu, saya merasa bersyukur banget jadi orang Indonesia. Muslim yang tinggal di negara 4 musim, dan kebetulan dapat bulan Ramadhan saat summer, saya salut ! Kalian luar biasa :') Saya cuma dua minggu kurang, karena di tengah minggu kedua kebetulan saya datang bulan, tapi udah kapok rasanya.

    Jadi waktu itu tim saya berlima, 4 perempuan dan 1 laki-laki. Karena pas bulan Ramadhan, jadilah kita dicarikan apartemen, yang lengkap ada dapur dan ruang makannya. Maksudnya sih biar bisa menyiapkan makan sendiri karena nggak mungkin ada resto yang buka dini hari atau larut malam. FYI, di negara-negara Eropa itu jam buka resto cuma sampai jam 6 sore. Ya ada sih beberapa yang buka sampai malam, tapi jarang banget. Ada pun pasti di tengah kota daerah CBD. Sedangkan vendor saya ini kantornya agak minggir sedikit, nggak di tengah kota banget. Apartemen saya pun dekat sekali dari kantor vendor, jalan kaki hanya 10 menit. 

    Jadilah saya dan flatmate saya belanja bahan makanan simple, seperti sayur, pasta, sosis, nugget, daging cincang, dan bumbu masak seperti bawang dan cabe. Masak deh tuh kita setiap mau sahur, mata cuma setengah. Dan lucunya lagi, adzan subuh nya itu jam 4an. Jadi habis sahur tuh masih lama banget menuju adzan. Padahal ngantuk kan, maunya makan sahur, solat subuh, terus lanjut tidur lagi. Tapi karena jadwal yang sangat inconvenient, kita harus bangun jam 1 untuk menyiapkan sahur, makan sahur, tidur lagi, kemudian bangun lagi sekitar jam 4 untuk solah subuh, tidur lagi, kemudian bangun lagi jam 7 untuk siap-siap ke kantor... 

    Itu adalah jadwal pagi. Kalau menuju buka puasa, harus menahan lapar dan haus sampai jam 10 malam. Di sana, jam 10 malam benar-benar baru matahari terbenam. Makan deh tuh saya dan kawan-kawan jam 10 malam. Jadi bisa kebayang lah jadwal pencernaan sudah pasti kacau balau. Buka puasa jam 10 malam, nggak lama setelah itu tidur, di mana ini super tidak nyaman karena rasanya perut masih penuh tapi karena sudah larut ya sudah ngantuk. Kemudian jam 1 harus bangun untuk sahur lagi. Padahal belum lapar sama sekali, malah masih kenyang.. huhu.. salut lah pokoknya sama umat muslim yang mengalami ini beberapa Ramadhan. Saya hanya 2 minggu, tapi tidak mau diulang lagi.. Cukup jadi pengalaman sekali seumur hidup saja :'D

    Berikut ini foto-foto sewaktu saya di Stockholm selama 2 minggu



    Monteliusvagen






    Gamla Stan


    At a yard in front of our apartment in Gardet



    Saya juga menyempatkan ke Sigtuna dan Vaxholm saat weekend. 

    Sigtuna adalah kota tertua di Sweden. Vibe kota nya damai dan sepi sekali. Cocok kalau mau me-time, apalagi introvert seperti saya yang tidak terbiasa tinggal serumah dengan orang-orang yang bukan inner circle.




    Sigtuna


    Stockholm sendiri merupakan kota archipelago, sehingga banyak kota-kota di sekelilingnya yang bisa dijangkau dengan kapal. Tapi ke Vaxholm ini saya naik bus. Karena sendirian dan waktu itu free-time nya tidak terlalu banyak, saya nggak berani naik kapal, khawatir kelamaan bingung dan malah nyasar. Karena hari itu adalah hari terakhir kami di Sweden, dan harus sudah sampai Stockholm lagi jam 2 siang supaya tidak tertinggal penerbangan pulang



    Vaxholm



    Kartu transportasi Stockholm itu sudah meng-cover semua jenis transportasi. Bahkan sampai train line ke kota sebelah, Sigtuna, dan bus line ke kota achipelago Vaxholm. Dan karena saya isi saldonya itu yang unlimited selama satu minggu, sayang kalau nggak dimaksimalkan. Jadilah saya ngebolang solo ke Sigtuna dan Vaxholm. Saya rekomendasikan untuk ke Uppsala juga. Tidak jauh dari Sweden, naik kereta hanya 1 jam. Gamla Uppsala nya cantik sekali, namun sayang saya tidak sempat kesana 
    Sekian pengalaman saya di Sweden dan berpuasa selama 20 jam. Sampai ketemu di pengalaman berikutnya.






    Continue Reading

    Siapa disini yang nggak tahu kecipir??

    Hahaha jangan sedih yah, saya pun baru tahu ada sayur namanya kecipir baru beberapa bulan yang lalu. Waktu itu saya sedang makan bersama kolega dan business partner di Tesate, dan dipesankan oseng kecipir bumbu kecap gitu. Dan ternyata saya suka hahaha. Sampai di rumah langsung nanya Mama tau gak ada sayuran namanya kecipir. Dan tentu aja Mama tau, namanya juga Ibu apa sih yg nggak tahu. Katanya dulu Mbah suka masak sayur asem pake kecipir. Tapi Mama nggak pernah ada niatan masakin kecipir buat saya, karena udah prejudice duluan takut saya nggak suka. Emang sih kayaknya kalo saya ngebayangin beberapa tahun lalu saya masih SMP atau SMA gitu, nggak akan suka kalo Mamah tiba-tiba nyuguhin kecipir di meja makan. Ya maklum anak remaja kan sukanya gorengan.

    Akhirlah saya berniat untuk coba masak sendiri di rumah. Tapi berhubung saya nggak terlalu suka kecap, saya ganti bumbunya jadi bumbu pedas. Saya udah agak lupa waktu di Tesate itu toppingnya apa. Saya improvisasi sendiri aja ditambah jamur sama udang. Sebenarnya tadinya mau baby cumi tapi di pasar dekat rumah nggak ada. Jadilah saya masak oseng kecipir jamur udang ala-ala. Bumbunya sih nggak mirip sama yang di Tesate, karena saya nggak suka kecap manis. Tapi ternyata lumayan juga rasanya hihihi. Perpaduan topping jamur nya cocok banget. Kecipir yang teksturnya notabene keras dan renyah dan ada sedikit rasa pahitnya, dicampur dengan jamur yang empuk dan asin. Ditambah rasa pedasnya bikin nyiduk terus walaupun sambil meler.





    Bumbu oseng yang saya pakai nggak ribet. Cukup bawang merah 4 siung, bawah putih 2,5 siung, cabe merah dan rawit secukupnya tergantung selera. Udah deh, tinggal diblender aja bumbunya, kemudian ditumis dan dicampur udang. Kalau udangnya udah setengah matang, dicampur deh sama potongan kecipir dan jamur yang udah direbus sebelumnya. Baru ditambahkan garam, lada, dan kecap asin secukupnya sesuai selera. Saya sih pribadi nggak suka terlalu asin dan nggak pakai mecin. Aduk sampai bumbu osengnya merata, terus sajikan deh! Bisa ditambah irisan cabe lagi untuk penyuka pedas.

    Selain itu, kecipir ini ternyata kaya akan vitamin A dan C yang berfungsi jadi antioksidan di dalam tubuh kita. Tinggal di Jakarta bersama semua polusi dan sinar matahari UVnya, tentu harus rajin mengkonsumsi makanan yang mengandung antioksidan untuk ngebasmi radikal bebas di tubuh. Nggak cuma menimbulkan penyakit menyeramkan seperti kanker, tapi radikal bebas juga bisa bikin kulit kita cepat menua loh. 

    Saya jadi makin jatuh cinta nih sama kecipir, selain masaknya gampang, rasanya enak, kandungan antioksidan nya juga tinggi.

    Happy cooking !

    Continue Reading

    Sebenarnya film Kimi No Na Wa ini sudah lumayan lama tayang dan hits nya. Tapi memang dasarnya saya bukan tipe yang cepat kebawa arus, jadilah saya baru nonton film ini awal tahun ini. 
    Wah... menyesal bukan main... kenapa saya nggak nonton dari dulu. Baguuus

    Salah satu film animasi yang sanggup saya rewatch selain keluaran Disney atau Pixar. Sedikit spoiler, film ini settingnya di kota kecil di Jepang. Ada juga sih beberapa scene di Tokyo, tapi alur cerita utamanya berkisar tentang kota Itomori, yang punah karena tertimpa meteor jatuh. Saya suka sekali sama plot nya, ide ceritanya brilian dan original. Character development nya juga natural, tidak tergesa-gesa bikin dua karakter utamanya langsung jatuh cinta. Tapi pelan-pelan, pasti, pelan-pelan tapi pasti #halah.

    Sudah lama saya nggak nonton film yang cerita fantasi tapi penuh drama seperti ini. Pokoknya kalau kalian belum nonton, tontonlah sekarang juga !


    Continue Reading


    Pernah nggak sih kalian merasa dilema saat bikin itinerary travelling ? Destinasi mana ya yang harus keluar dari list, mana ya yang lebih worth-it ? Kalau saya sih sering hahaha. Ya karena keterbatasan waktu dan budget, impian untuk mengunjungi semua destinasi rasanya nggak bisa dipaksakan.
    Kalau benua Kangguru alias Australia, punya dua kota besar yang sangat terkenal di kalangan turis mancanegara. Sydney yang merupakan ibukota dari state New South Wales (NSW), dan Melbourne yang merupakan ibukota dari state Victoria.

    Alhamdulillah waktu saya pergi ke Aussie, waktu dan budget masih memungkinkan untuk mengunjungi keduanya. Tadinya saya mau ke Brisbane dan Canberra juga. Tapi ternyata Brisbane cukup jauh dari Sydney maupun Melbourne. Nah kalau Sydney dan Melbourne ini sendiri hanya berjarak 14-15 jam menggunakan bus malam. Jadi kalau waktu travelling kamu lebih dari 7 hari, tidak ada salahnya melanjutkan perjalanan ke kota metropolitan sebelah.

    Tapi tidak jarang waktu liburan sangat terbatas karena cuti yang terlalu panjang sulit di-approve atasan #curhat. Berdasarkan pengalaman saya jalan-jalan ke benua Kangguru ini, Sydney dan Melbourne sama-sama memiliki kelebihannya.

    Transportasi
    Di Sydney, transportasi dalam kota nya menggunakan kereta listrik, atau sebutannya disana adalah Metro. Metro ini menurut saya sangat convenient! Selain jalurnya yang nggak ribet dan mudah dipahami hanya dengan lihat peta, harganya juga affordable. Selama di sana, saya kayaknya nggak pernah menghabiskan biaya sampai lebih dari $6 dalam sehari untuk berkeliling pakai Metro. Selain Metro, ada juga city bus. Nah city bus ini agak sulit dipahami jalurnya, karena kadang tidak ada semacam announcement ketika bus berhenti di suatu bus stop. Jadi kita harus siap siaga ngelongok keluar jendela setiap bus berhenti. Dan kalau benar sudah sampai di tempat yang kita tuju, harus sigap keluarin MetroCard untuk tap out. Kelebihannya adalah, pemerintah NSW sudah buat aplikasi yang sangat informatif seputar transportasi di dalam NSW. Kita bisa tahu pilihan transportasi apa saja untuk bisa sampai ke tujuan, berikut cost nya pun bisa dibandingkan. Cukup dengan buka link https://transportnsw.info/ atau download versi aplikasinya dari AppStore ataupun PlayStore.




    Di Melbourne, transportasi dalam kota nya menggunakan kereta listrik dan tram. Tapi kereta dalam kota mereka rutenya terlalu simple, jadi tidak banyak menjangkau tempat-tempat turis. Jadi selama saya di Melbourne, saya kemana-mana pakai tram. Tram ini sangat nyaman sih, dan punya rute dan pemberhentian yang sangat lengkap. Sayangnya harganya mahal banget hiks. Untuk satu kali perjalanan, jauh maupun dekat, akan langsung terdebet $4,6 dari kartu Tram kita. Jadi hanya untuk berangkat dari penginapan ke tempat tujuan dan pulang lagi ke penginapan sudah pasti menghabiskan sekitar $9, itu belum jalan-jalan sehariannya. Sebenarnya sih ada free-route, tapi cuma mengjangkau sekitaran CBD Melbourne saja.





    Cuaca dan Temperatur
    Waktu saya berkunjung itu sekitar akhir April - awal Mei. Dimana saat itu adalah fall season di Aussie. Kalau kalian berharap ketemu sama red foliage yang diburu-buru saat autumn, jangan berharap bisa ketemu di Sydney maupun Melbourne. Red foliage sih ada, tapi adanya cuma di daerah-daerah village nya saja, seperti Leura Village di NSW. Bahkan di Sydney saya sempat merasakan 2 hari dimana cuaca cukup panas, sekitar 23-25 derajat celsius. Di Melbourne notabene lebih dingin dari Sydney, tapi red foliage tetap jadi hal langka yang bisa ditemui disana saat fall season.

    Kebersihan
    Nah untuk yang ini saya punya pengalaman sendiri yang nggak akan saya lupakan. Jadi saya sempat pindah penginapan waktu di Sydney, karena...... kecoa! Iya, kecoa, serangga coklat yang bisa terbang. Jadi ternyata kecoa merupakan serangga lumrah di Sydney. Tapi kecoa Sydney itu ukurannya kecil, dan warnanya lebih ke coklat muda sampai transparan, dan nggak bisa terbang. Kecoa ini ngumpet di dinding yang bolong, atau frame pintu yang udah rapuh. Tapi tenang aja, kecoa-kecoa Sydney ini biasanya cuma ada  di gedung yang udah tua. Sehari ketemu 5-6 kecoa itu hal yang normal kata resepsionis penginapan saya, yang dia bahkan orang Jerman dan sangat meticulous soal kebersihan di rumahnya. Ya mungkin kecoa di Sydney ya kayak semut aja gitu di Jakarta, karena kok kayaknya saya dan teman-teman saya aja yg heboh dan komplain soal kecoa sedangkan penghuni lainnya adem ayem aja. Setelah saya pindah penginapan yang gedungnya baru, alhamdulillah sih nggak ketemu kecoa lagi.
    Di Melbourne, alhamdulillah TIDAK ADA KECOA





    Travel Style
    Saya menghabiskan sekitar 4 hari di Sydney, dan 6 hari di Melbourne. Dan menurut saya pembagian hari ini lumayan efektif. Karena menurut saya, wisata di Melbourne lebih banyak daripada di Sydney. Kalau kalian ingin traveling dengan style yang chill, city tour, cafe hopping, kuliner, shopping, menurut saya Sydney lebih tepat jadi tempat tujuan. Tapi kalau kalian ingin traveling yang sedikit adventurous, nikmatin alam dan lanskap, Melbourne lebih tepat jadi tempat tujuan.
    Tapi nggak menutup kemungkinan kamu nggak bisa menikmati alam dan lanskap di Sydney, dan nggak bisa chill dan shopping di Melbourne.
    Di Sydney, saya booking one-day trip ke Blue Mountains, yang isinya keliling Leura Village, menikmati lanskap Three Sisters Rocks, merasakan experience cable car dan steep railway di Scenic World, melihat langsung koala dan kangguru, dan diakhiri dengan cruising sampai ke Circulay Quay atau Darling Harbour. Dari pegunungan, ada juga pantai yang bisa dinikmati sambil berjalan sehat di sepanjang Bondi to Cogee Coastal Walk.






    Di Melbourne, banyak sekali lanskap yang bisa kita nikmati. Saya sangat merekomendasikan booking one-day trip ke Phillip Island yang cuma 3 jam dari Melbourne. Pemanadangan selama perjalanan maupun di tempat tujuan sama indahnya. Apalagi kalau ikutan Penguin show saat sunset di Phillip Island, kita bisa lihat langsung spesies lucu ini beraktifitas di habitatnya, sekaligus berdonasi untuk pemeliharaan habitat asli supaya penguin-penguin ini bisa terus hidup. Selain Phillip Island, ada juga one-day trip Great Ocean Road. Untuk yang ini, wajib banget kalau udah sampai Melbourne. Pemandangannya bikin saya merasa terharu, merasa kecil dan bersyukur bisa menikmati ciptaan Tuhan yang sangat cantik. Walaupun terbilang mahal, tapi semuanya worth-it! Kita bisa lihat Gibson's Steps, 12 Apostles, Loch Ard Gorge, dan Razorback di sore hari. Belum lagi savana yang terbentang di sepanjang jalan Great Ocean Road...wah pokoknya nggak akan menyesal








    Well, begitulah kira-kira yang bisa saya share mengenai Sydey dan Melbourne. Kalau disuruh pilih, saya juga bingung karena dua-duanya punya kecantikan masing-masing. Sydney yang merupakan kota nyaman dipenuhi warga lokal, dan Melbourne yang sangat urban dengan multiculture nya.
    Anyway keduanya sangat worth-it untuk dikunjungi. Jangan lupa untuk melakukan research yg mendalam untuk mengisi itinerary. 
    Happy travelling !


    Continue Reading
    Older
    Stories

    About me

    Photo Profile

    Hi, my name is Rizky Aprilina.
    I post just about everything. Thoughts and opinions, the books I read, the songs I listen to, the places I visit, the products I buy, just everything.
    Enjoy reading !

    Follow Me

    • facebook
    • twitter
    • youtube
    • instagram
    • pinterest
    • tumblr

    Instagram

    @kikyapril

    Labels

    food health mind movie personal review travel

    recent posts

    My Blog List

    • The Naked Traveler
      Cara Booking Hotel Lebih Hemat Tanpa Ribet
    • Liza-Fathia.Com
      Menghitung Berat Ideal Keluarga dengan Kalkulator BMI
    • Wira Nurmansyah
      Discovering Macao: A Unique Fusion of East and West
    • VANI SAGITA: INDONESIAN BEAUTY BLOGGER
      Full Month(s)
    • ANAKJAJAN.COM
      2022 SINGAPORE TRAVEL GUIDE – 10 COOL/ UNUSUAL EXPERIENCES TO TRY
    • Miharu Julie - Indonesian Beauty and Travel Blog
      Dongdaemun Design Plaza, Seoul City Hall, Iumpium Sewing History Museum
    • sheggario.com
      AI Photography di Kehidupan Sehari-hari
    • Sitta Karina
      Magical Seira #3: Seira and The Destined Farewell
    • ANDRA ALODITA - Life, Beauty & Travel Journal
      Lately

    Blog Archive

    • July 2021 (1)
    • April 2020 (2)
    • March 2020 (1)
    • December 2018 (3)
    • September 2018 (3)

    Most Popular

    • Kimi No Na Wa, From Little Village to Outer Space
    • Start Anew
    • Sydney vs Melbourne, what to choose ?
    facebook Twitter instagram pinterest tumblr

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top